Guru Berhasil Apabila Murid Telah Mengembangkan Kemampuannya Sendiri

Pandangan lama mengatakan bahwa guru adalah sumber ilmu pengetahuan dan siswa adalah penerima ilmu pengetahuan, sehingga keberhasilan proses belajar diukur dari banyaknya ilmu yang diserap atau disimpan oleh siswa dari guru. Pandangan tersebut sudah tidak bisa dipertahankan dan tidak relevan lagi, karena pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu yang dinamis dan tidak terbatas. Pengetahuan (yang dapat dihimpun dalam rasa dan pikir manusia) adalah hanya bersifat sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46).

Ilmu pengetahuan yang disampaikan oleh guru kepada siswanya, secara relatif, mungkin hanya berfungsi untuk saat ini, dan tidak untuk masa lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itulah, tidak terlalu banyak berarti upaya menjejalkan sebanyak mungkin ilmu pengetahuan kepada siswa, apalagi untuk hal yang tak relevan dengan konteks pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Fungsi guru sebagai sumber materi pelajaran harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik (siswa) untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Guru harus menjadi seorang pendidik dewasa, berperan sebagai menjadi “penengah” perjumpaan subjek didik dengan serangkaian informasi faktual yang setiap hari mengepung kehidupan subyek didik (siswa)

Guru harus mengetahui dimana letak sumber-sumber informasi pengetahuan dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktu-waktu siswa memerlukannya, untuk membantu subjek didik mengembangkan kemampuannya mereaksi dunia sekitarnya. Pada momentum inilah tindakan belajar dalam pengertian yang sesungguhya terjadi, yakni ketika siswa, sebagai subyek didik, belajar mengkaji kemampuannya secara realistis dan menerapkannya untuk mencapai kebutuhan-kebutuhannya.

Dari deskripsi tersebut terlihat bahwa indikator keberhasilan tindakan belajar adalah : bila subjek didik (siswa) telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Lebih jauh lagi, bila subjek didik (siswa) berhasil menemukan dirinya sendiri ; menjadi dirinya sendiri. Faure (1972) menyebutnya sebagai “learning to be” (belajar untuk menjadikan dirinya sebagai sesuatu).

Seyogyanya guru selau berusaha untuk menciptakan kondisi yang “kondusif” (menarik dan menimbulkan semangat) bagi berlangsungnya tindakan belajar secara efektif. Kondisi yang kondusif itu tentu lebih dari sekedar memberikan penjelasan tentang hal-hal yang termuat di dalam buku teks, melainkan mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membantu subjek didik dalam upaya mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan (Whiteherington, 1982:77). Inilah fungsi motivator, inspirator dan fasilitator dari seorang guru.

Explore posts in the same categories: Umum

One Comment pada “Guru Berhasil Apabila Murid Telah Mengembangkan Kemampuannya Sendiri”

  1. Abu Salman Says:

    wah pak dodik, kok temanya pendidikan gak nyangka punya perhatian pada bidang ini, kayaknya beda dengan yang telah njenengan geluti selama ini.
    menurut saya guru itu jadi fasilitator saja bagi terciptanya suatu proses pembelajaran bagi siswa-siswinya.
    Repotnya (lumrahnya?) guru juga manusia, terkadang masalah-masalah pribadi guru dirumah jadi triger bagi terciptanya “kekerasan” (mental, lisan, fisik) dengan siswa sebagai obyeknya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: