Pendidikan Berbasis ICT

Perkembangan ICT (Information and Communication Technology) memiliki “multiplier effect” di hampir semua bidang, termasuk bidang pendidikan.  ICT mempengaruhi dan bahkan “memaksa” sistem pendidikan khususnya metoda pembelajaran, menjadi pembelajaran yang lebih dinamis dan efektif, bahkan “efisien”.  Materi pelajaran sumbernya menjadi semakin terbuka dan bervariasi.  Kalau sebelumnya murid hanya mengetahui sejarah kerajaan Mojopahit dari guru sejarahnya dan buku pelajaran atau mungkin beberapa buku di perpustakaan, maka kini hanya dengan duduk tak lebih dari satu jam di depan komputer dan melakukan “browsing” di internet, murid dapat memiliki informasi yang sangat lengkap mengenai Kerajaan Mojopahit.  Bahkan jauh lebih lengkap dari yang tercantum di buku diktatnya, ataupun dari penjelasan guru sejarah di depan kelas.  Murid bisa melihat gambar candi – candi yang dibuat di jaman Mojopahit, silsilah raja – raja Mojopahit, sejarah hidup Mahapatih Gajahmada, cerita memilukan perang Bubat, Kisah Minakjinggo, Kisah Ronggolawe dan masih banyak kisah dan cerita lainnya.  Hal ini adalah sebuah kenyataan yag menunjukan bahwa peran Guru sudah berubah.  Bahkan boleh dikatakan drastis sekali.

Sebab itulah, sekolah harus menyusun rencana strategis untuk menuju Sekolah yang berbasis ICT.  Sekali lagi ini bukan pilihan, tetapi keniscayaan (keharusan).  Mulai dari organisasi, SDM, sistem dan prosedur, investasi serta budaya.  Ini adalah kerja besar bagi sekolah  yang sebelumnya tidak mempersiapkan diri ke Sekolah Berbasis ICT.  Tetapi karena ini bukan pilihan tetapi keniscayaan atau keharusan, maka suka atau tidak suka semua sekolah harus menuju ke arah sana dalam waktu cepat.  Kenapa harus cepat?  Karena pekermbangan ICT itu sendiri adalah super cepat.

Yang tak boleh diabaikan oleh sekolah adalah berubahnya pengajaran biasa ke pengajaran berbasis ICT adalah bertumpu pada akar budaya sekolah.  Membangun budaya ICT di sekolah adalah mengubah kebiasaan lama ke kebiasaan baru yang lebih efektif dengan memanfaatkan ICT semaksimal mungkin.  Contoh dari budaya ICT tersebut antara lain : program investasi Note Book, komunikasi dengan murid dan guru melalui email, mengajar dengan multimedia, menyimpan data di flash disk atau CD, bahan ajar dari teks book dan internet dan sebagainya.  Ini nampaknya tidak mudah dan memerlukan komunikasi yang efektif antara pimpinan sekolah dan dewan guru agar budaya ICT di sekolah semakin hari semakin tumbuh dan berkembang untuk menopang Manajemen Sekolah Yang Berbasis ICT.  Insya Allah akan terlahir generasi penerus yang lebih baik dari sebelumnya. Amien. (DP)

Explore posts in the same categories: Umum

5 Komentar pada “Pendidikan Berbasis ICT”

  1. noerkomari Says:

    ass wr. wb.
    thanks atas infonya.
    bagaimana pada tataran praktis, program seperti ini bisa menggugah pengelola pendidikan untuk menerapkannya. smenentara biaya untuk ini tidak sedikit.
    wass. wr. wb.

  2. dodikpriyambada Says:

    Pak Noer, kita bisa mulai dengan penyusunan strategi pengembangan ICT di sekolah (Jangka Panjang min 5 tahun). Ditetapkan kondisi jangka panjang tersebut (misal tahun 2015) seperti apa. Misal: Di sekolah internet 24 jam, tersdia intranet, semua murid, guru dan karyawan memiliki punya email account, jumlah komputer yang bisa akses internet 100 unit, ada web page sekolah yang bisa diakses dari manapun, interaksi dengan orang tua murid via internet dsb. Kemudian disusun tahapan per tahunnya. Ingin diskusi detail silahkan contact melalui email saya. Salam Dodik.

  3. Mas Klentiq Says:

    aku ki ra mudeng pengelolaan pendidikan berbasis ICT, terus piye carane mudeng ???
    terus sopo sing gelem ngajari aku ????
    tolooooooooooooong ……

  4. Mas Klentiq Says:

    utowo ono sing gelem kirimi aku modul, aku matur nuwun banget …..


  5. […] Yang tak boleh diabaikan oleh sekolah adalah berubahnya pengajaran biasa ke pengajaran berbasis ICT adalah bertumpu pada akar budaya sekolah.  Membangun budaya ICT di sekolah adalah mengubah kebiasaan lama ke kebiasaan baru yang lebih efektif dengan memanfaatkan ICT semaksimal mungkin.  Contoh dari budaya ICT tersebut antara lain : program investasi Note Book, komunikasi dengan murid dan guru melalui email, mengajar dengan multimedia, menyimpan data di flash disk atau CD, bahan ajar dari teks book dan internet dan sebagainya.  Ini nampaknya tidak mudah dan memerlukan komunikasi yang efektif antara pimpinan sekolah dan dewan guru agar budaya ICT di sekolah semakin hari semakin tumbuh dan berkembang untuk menopang Manajemen Sekolah Yang Berbasis ICT.  Insya Allah akan terlahir generasi penerus yang lebih baik dari sebelumnya. Amien. (DP)  Sumber: https://anginsepoi.wordpress.com/2008/01/21/pendidikan-berbasis-ict/ […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: