Komite Sekolah – Di Persimpangan Jalan

Landasan hukum adanya Komite Sekolah adalah SK Mendiknas no 044/U/2002 tanggal 2 April tahun 2002.   Disebutkan didalamnya bahwa pembentukan Komite Sekolah di awal berdirinya di fasilitasi oleh Kepala Sekolah dengan membentuk Panitia Persiapan berjumlah sekurang – kurangnya 5 (lima) orang. Selanjutnya pengurus dan anggota Komite Sekolah harus menyusun AD dan ART untuk mengatur tata laksana pengelolaan Komite Sekolah, termasuk di dalamnya mekanisme pembentukan Komite Sekolah periode berikutnya. Timbul sebuah “kerepotan” jika AD dan ART Komite Sekolah menetapkan bahwa pembentukan Komite Sekolah dilakukan secara independen (tanpa melibatkan Kepala Sekolah) oleh anggota Komite Sekolah. Jika pengesahan oleh Kepala Sekolah, seringkali seolah – olah Kepala Sekolah berhadapan dengan sebuah “ketidak berdayaan” atau “keterpaksaan” mengesahkan susunan anggota Komite Sekolah, yang seringkali kurang sesuai dengan “harapan” Kepala Sekolah. Atau ada juga yang AD dan ART Komite Sekolah menetapkan bahwa susunan anggota Komite Sekolah tidak perlu disahkan dengan SK Kepala Sekolah, tetapi cukup oleh Formatur atau pihak lain (Dewan Pendidikan Kabupaten / Kota). Jika hal ini terjadi, Komite Sekolah biasanya tidak mendapat alokasi biaya dari sekolah ybs. Di sisi lain Rencana Anggaran Pendidikan dan Belanja Sekolah (RAPBS) harus disahkan oleh oleh Komite Sekolah (Sumber: Acuan Operasional dan Indikator Kinerja Komite Sekolah, Depdiknas, Dirjen Dikdasmen, Tahun 2004, hal 35). Hal ini tentu bisa menimbulkan potensi pertentangan kepentingan antara Ketua Komite Sekolah dan Kepala Sekolah,yang sangat tidak kondusif untuk penyelenggaraan pendidikan di Sekolah.

Solusi “sementara” atau jalan tengah adalah membangun sebuah komunikasi yang efektif antara Kepala Sekolah dan Komite Sekolah, agar Komite Sekolah dapat berfungsi dan berperan secara efektif dan berimbang. Sementara itu, peraturan perundangan yang lebih rinci, perlu dibuat khusunya mengenai mekanisme pembentukan Komite Sekolah yang “win – win” bagi Sekolah, Masyarakat, Orang Tua Murid dan Pemerintah.

Tidaklah mengherankan jika realita yang sering terjadi di masyarakat saat ini adalah banyak sekali Komite Sekolah yang lebih bersifat “formalitas” tanpa aktivitas yang berarti alias “tukang stempel”.  Sementara di sisi lainnya banyak pula Komite Sekolah yang sangat “independen” terhadap Kepala Sekolah, dan biasanya Komite Sekolah ini sangat aktif melaksanakan kegiatan secara mandiri dan terkesan “oposan” bagi Kepala Sekolah. Fakta tersebut adalah cermin bahwa Komite Sekolah saat ini berada pada yang kondisi yang tidak ideal bagi penyelenggaraan pendidikan di Sekolah. Diharapkan para pendidik sadar untuk segera mencari titik temu yang “ideal” untuk mencari format yang lebih baik untuk Komite Sekolah yang memiliki peran sebagai : Advisory Agency,  Supporting Agency, Contolling Agency dan Mediator bagi penyelenggaraan pendidikan di Sekolah.

Insya Allah peran dan fungsi Komite Sekolah di masa yang akan datang akan semakin berarti untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia di era otonomi pendidikan yang baru saja dimulai.(DP)

Explore posts in the same categories: Komite Sekolah

10 Komentar pada “Komite Sekolah – Di Persimpangan Jalan”

  1. krishna Says:

    Bukan mau menyederhanakan masalah, tapi sejauh pengamatan saya dan sedikit pengalaman bergaul dengan masyarakat sekolah, apa yang terjadi dengan Komite Sekolah diawali dengan ketidakcukupan informasi dan bekal (pengetahuan dan keterampilan manajemen praktis) bagi Komite Sekolah. Bahkan lebih parah lagi, sosialisasi tentang Peran dan Fungsi Komite Sekolah serta bagaimana prosedur pembentukannya pun sangat kurang. Mungkin memang ada satu atau dua sekolah yang memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat tentang Kepmen 044/2003 dengan melakukan penunjukkan (bukan pemilihan) Komite Sekolah. Tapi, saya percaya dan sangat kuat menduga bahwa lebih banyak sekolah yang memang tidak paham tentang bagaimana seharusnya membentuk Komite Sekolah dan memilih personil yang tepat.

    Beberapa kali saya melihat ( secara langsung di lapangan) ada kasus dimana Komite Sekolah justru meminta sekolah memberikan sesuau untuk diri mereka. Ketika saya minta Kepala Sekolah untuk menjelaskan kepada Ketua Komite Sekolah tentang peran dan fungsinya, dimana seharusnya mereka menjadi “mitra sekolah” dan bukannya menjadi “parasit bagi sekolah”, maka Ketua Komite Sekolah itu justru langsung meminta maaf kepada Kepala Sekolah dan menyatakan penyesalannya. “Kalau saja saya tahu apa yang diharapkan dari saya”, begitu katanya. Nah ????

  2. dodikpriyambada Says:

    Bapak Krishna,
    Saya adalah salah satu anggota Komite Sekolah sebuah SMA Swasta di Gresik Jatim. Memang benar yang Bapak sampaikan bhw Komite Sekolah kurang mendapat cukup informasi mengenai aturan main Komite Sekolah (Kepmen 044/2003). Hal ini disebabkan Instansi terkait mungkin belum melakukan sosialisasi yang efektif tentang hal ini. Demikian juga banyak pimpinan sekolah yang tidak memiliki informasi mengenai hal ini, sehingga pembentukan Komite Sekolah di sekolahnya hanya sekedar formalitas dan dicari enaknya saja, tanpa memperhatikan fungsi Komite Sekolah sebagai Akselerator, Mediator dan Fasilitator bagi sekolah.
    Masih perlu sosialisasi terus menerus sehingga tumbuh kesadaran mengenai hal itu. Semoga.

    Salam,
    Dodik Priyambada


  3. mungin benar apa yang dikatakan pak krishna tapi terlepas dari semua itu masalahnya kan terletak pada informasi yang minim akan hal itu, jadi permasalahannya sekarang ada pada kurangnya sosialisasi dari pihak yang mengetahui akan tugas dan peran komitesekolah.

  4. EA Jabbar Says:

    Saya adalah orangtua siswa baru dari suatu SMAN di Jakarta. Saya kurang paham tentang peran & fungsi dari Komite Sekolah (KS) di sekolah anak saya tsb. Ketika bulan Agustus lalu saya disodori kartu iuran bulanan dari KS (katanya berdasarkan hasil kepts rapat pengurus KS bulan Juli 08, bukan rapat seluruh ortu) sebesar Rp 200.000,-per bulan ditambah biaya-biaya lain (tambahan khusus Juli) Rp 120.000,- Saya bertanya dalam hati apakah ini semacam SPP bulanan sekolah, tapi koq Komite yg menentukan tanpa musyawarah ortu siswa? Lebih heran lagi, ketika ada undangan Komite Sekolah untuk musyawarah ortu siswa dalam penetapan iuran bantuan anggaran sekolah kepada semua ortu siswa baru; Masalahnya, proporsi terbesar anggaran tsb (tahun 2008) adalah untuk pengembangan Guru (Rp 500jutaan), bangunan fisik (Rp 300jutaan), dll, total anggaran lebih dari 1M; dan kalo dibebankan kpd setiap ortu siswa baru, kenanya Rp 5,3jt. (Boleh diangsur 10 bulan, katanya). Karena musyawarah, hasil debat yg panas, dputuskan per ortu dikenakan Rp3jutaan, boleh diangsur, dsb. Ini yang mengherankan saya :
    1. Atas dasar apa KS menetapkan iuran bulanan wajib Rp 200,000,- sepanjang
    menjadi siswa? (untuk apa, mana anggarannya?)
    2. Kami dibebankan iuran anggaran pengembangan sekolah Rp 3 jutaan/siswa baru.
    Apakah sekolah negeri tidak ada anggaran dari Pemerintah? (khususnya
    pengembangan SDM/Guru, & sarana fisiK?

    Andakah yang bisa membantu menghilangkan keheranan saya?

  5. dodikpriyambada Says:

    Bapak EA Jabbar,
    Menurut Ace Suryadi, Ph.D. (Staf Ahli Mendiknas Bidang Desentralisasi Pendidikan) pada Sosialisasi Pemberdayaan Dewan Pendidikan Dan Komite Sekolah selama Juni 2003 “Adalah keliru jika Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah adalah alat untuk “penarikan iuran”, karena “penarikan iuran” yang dilakukan oleh BP3 terbukti tidak berhasil memobilisasi partisipasi dan tanggungjawab masyarakat”.
    Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2 April 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Dalam Kepmendiknas tersebut disebutkan bahwa peran yang harus diemban Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah adalah (1) sebagai advisory agency (pemberi pertimbangan), (2) supporting agency (pendukung kegiatan layanan pendidikan), (3) controlling agency (pengontrol kegiatan layanan pendidikan), dan (4) mediator atau penghubung atau pengait tali komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah

  6. dodikpriyambada Says:

    Tambahan komentar untuk Bapak EA Jabbar:
    Iuran bulanan yang ditetapkan oleh KS menurut saya perlu dijelaskan oleh Sekolah dan KS sebagai dana apa dan digunakan untuk apa pula. Sedangkan iuran pengembangan sekolah sepanjang sudah dimusyawarahkan oleh seluruh orang tua dan tidak bersifat memaksa (pukul rata antara yang mampu dan yang tidak mampu), adalah boleh dilakukan. Jika dipaksakan orang tua yangtidak mampu bisa mengajukan keberatan (lewat Dewan Pendidikan atau DPRD atau jalur lain). Semoga bermafaat. Salam.


  7. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

    Strategi Pendidikan Milenium III
    (Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

    DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

    Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

    KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

    Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

    Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

    Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

    WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

    Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

    Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

    ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

    Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

    Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

    SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

    Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

    BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

  8. bundarizkiamir Says:

    Saya ibu rumahtangga dgn 2 putra yg bersekolah di SDIT dan TKIT di Tebing Tinggi,saat ini saya aktif sbg sekretaris komite di SDIT Permata Hati Tebing Tinggi. Sudah hampir 1 tahun saya aktif di komite sekolah banyak sekali kendala yang hampir membuat saya hopless,karena disebabkan minimnya kesadaran pihak sekolah (yayasan dan kepala sekolah) terhadap peran komite.Berulang kali saya meminta kepada yayasan untuk duduk bersama membahas pentingnya peran komite tetapi tanggapan dari ketua yayasan sangat-sangat mengecewakan.4 peran komite yang pak dodik sampaikan insyaallah sudah kami laksanakan tapi hasilnya ya…mereka jd sinis,kesannya komite mau mencampuri segala urusan sekolah.Yang sangat-sangat mengherankan Ketua Yayasan adalah juga seorang pendidik (kepala sekolah Aliyah Negeri di Tebing Tinggi) dan dia mengakui bahwa dia termasuk orang yang menolak adanya komite. Jd selama ini saya melihat di kota Tebing Tinggi (khususnya) peran Ketua Komite hanya sebagai tanda tangan agar dana BOS dapat dikeluarkan,dan mungkin ketua komite dipilih lsng oleh kepsek bukan melalui musyawarah.Insyaallah pengurus komite di SDIT Permata Hati dipilih melalui musyawarah dan semua pengurus adalah perempuan.

  9. dodikpriyambada Says:

    Ibu Satiawati,
    Saya prihatin dengan sekolah yang tidak menempatkan Komite Sekolah (KS) pada posisi yang semestinya. KS adalah representasi orang tua murid dan masyarakat untuk dapat ikut meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah. Saran saya KS bisa berkomunikasi dengan Dewan Pendidikan kabupaten / kota setempat untk bisa menjembatani komunikasi antara KS dengan pihak sekolah.
    Semoga ke depan KS di tempat ibu semakin beperan dalam mengembangkan kualitas pendidikan di Tebing Tinggi.

  10. dian utama shaputra Says:

    tolong jelaskan fungsi-fungsi operasional sekolah yang di jalankan oleh kepala sekolah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: