Ujian Nasional SMA Tahun 2010 – Masih Menyisakan Kepahitan

Ujian Nasional SMA tahun 2010 yang kontroversial, karena munculnya keputusan Mahkamah Agung yang menetapkan bahwa penyelenggaraan Unas tahun 2009 adalah sebuah kekeliruan.

Kasasi pemerintah soal pelaksanaan UN ditolak oleh MA pada 14 September 2009 lalu. Dengan demikian MA mengabulkan gugatan subsider para penggugat yakni 58 anggota masyarakat yang terdiri dari siswa, wali murid, guru dan pemerhati pendidikan mengabulkan gugatan Tim Advokasi Korban UN (Tekun) dan Education Forum agar ujian nasional (UN) ditiadakan.

Gugatan itu menyatakan bahwa bahwa para tergugat yakni presiden, wapres, mendiknas dan negara Republik Indonesia untuk meningkatkan kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah dan akses informasi yang lengkap di seluruh daerah.

Selain itu disebutkan juga bahwa para tergugat harus mengambil langkah-langkah konkrit untuk mengatasi gangguan psikologi dan mental peserta didik dalam usia anak akibat penyelenggaraan UN.

Dua poin terakhir gugatan adalah memerintahkan kepada para tergugat untuk meninjau kembali sistem pendidikan nasional dan menghukum para tergugat untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 374 ribu.

Putusan tersebut menegaskan bahwa UN memang banyak masalah.  Putusan MA pada intinya melarang pelaksanaan UN oleh pemerintah dan merupakan bentuk penegasan legal bahwa UN kita banyak masalah dan karenanya harus dilakukan evaluasi total terhadap UN.

Penerapan Ujian Nasional dipukul rata tanpa mempertimbangkan kondisi dari infrastruktur dasar pendidikan.  Sesuai dengan pertimbangan MA, UN diperlukan apabila seluruh penyelenggaraan pendidikan telah dilakukan secara merata, berkualitas dan terjangkau. UN bisa dilakukan apabila prasyarat dasar seperti sarana prasarana pendidikan memadai, distribusi dan kualitas guru terpenuhi, dan  kurikulum pendidikan akuntabel.

Seharusnya Mendiknas mencermati keputusan Mahkamah Agung tersebut sebagai momentum untuk menghentikan penyelenggaraan Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan siswa.

Lebih – lebih lagi fakta tentang pelanggaran dan penyimpangan pelaksanaan Ujian Nasional tahun 2009 sudah banyak diungkap secara terbuka, bahkan kasus penyebaran kunci jawaban secara terorganisir yang melibatkan guru dan siswa terjadi di banyak sekolah, termasuk di wilayah propinsi Jatim.

Ujian Nasional SMA tahun 2010

Harapan untuk sebuah pelaksanaan Ujian Nasional 2010 yang jujur dan obyektif pun ternyata masih menyisakan kenyataan pahit, karena ternyata di beberapa sekolah tetap nekad melakukan kecurangan dengan membagikan jawaban kepada para peserta ujian nasional, sehingga Pengawas Independen mengeluarkan pernyataan bahwa di beberapa sekolah hasil ujian nasional dinyatakan tidak sah dan melanggar peraturan berupa memberikan jawaban kepada siswa peserta Ujian Nasional 2010

Sebuah fakta juga terjadi di sebuah kabupaten di Jawa Timur, ada kesepakatan antar Kepala Sekolah yang berisi instruksi kepada para Pengawas dari sekolah masing – masing agar bertindak longgar dan jangan melakukan teguran kepada siswa yang membawa HP, menyontek, diskusi dan sejenisnya.  Akibatnya terjadilah sebuah kondisi bahwa Guru yang bertugas sebagai Pengawas Ujian Nasional diperlakukan tak lebih sebagai sebuah pajangan atau robot,  yang oleh peserta Ujian Nasional tidak dihiraukan kehadirannya.  Mereka asyik menyontek, berdiskusi dan bahkan membuka Hand Phone mereka tanpa merasa berdosa dan malu dengan para Guru yang mengawasinya (guru pengawas dari sekolah lain atau sistem silang).  Ada beberapa pengawas mencoba melakukan tindakan penertiban, akibat laporan dari peserta ujian nasional di sebuah sekolah, malahan mendapat tindakan dibebas tugaskan tidak mengawasi Ujian Nasional hari berikutnya.  Ini bisa disebut persekongkolan yang memalukan di dunia pendidikan.  Astaghfirullah.

Masih saja teman – teman Kepala Sekolah dan Guru melanjutkan tradisi mendidik kecurangan kepada anak – anak didiknya yang hendak lulus.  Bila saja mereka ingat bahwa proses pendidikan itu akan membekas seumur hidup, mungkin mereka akan berfikir sejuta kali untuk membiarkan bahkan memfasilitasi anak didik mereka untuk berbuat curang.  Jangan menyesal kalau sebagian anak didik itulah kelak yang akan menggantikan para koruptor yang suatu saat beranjak tua dan pikun atau meninggal.  Naudzubillah (DP)

Explore posts in the same categories: Ujian Nasional

4 Komentar pada “Ujian Nasional SMA Tahun 2010 – Masih Menyisakan Kepahitan”


  1. ujian nasional tak perlu jika hanya ingin lulus2an 100 % tp bertindak curang.Ujian sekolah sudah cukup untuk mengevaluasi anak didik bukan hanya pada nilainya tp kejujuran pula…

    • dodikpriyambada Says:

      Bapak Wahyu Budi Utomo, saya sependapat dengan Bapak. Mari semangat ini kita sebar luaskan untuk mengembalikan pendidikan kejujuran menjadi hal utama yang tak boleh ditawar oleh para Pendidik.

  2. upjakarta Says:

    kalau ujian membuat kita menjadi tidak jujur mending ujian tidak diadakan

    • dodikpriyambada Says:

      Gerakan untuk meniadakan Unas sebenarnya sdh banyak dilakukan (contoh: Dewan Pendidikan Jatim th 2008 yg lalu, DPRD Prov Jateng th 2010), tetapi Pemerintah bergeming, tak menanggapi dan tetap menjalankan Unas.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: