Refleksi Pendidikan di AwalTahun Baru 2012

Dana Bantuan Pemerintah untuk Pendidikan Tidak Efektif

Pendidikan di negara tercinta Indonesia sampai dengan saat ini masih menorehkan keprihatinan yang mendalam.  Peningkatan Anggaran Negara mendekati 30% dari APBN untuk sektor pendidikan ternyata belum dapat dimanfaatkan secara efektif untuk memperbaikai sistem pendidikan nasional di Indonesia.

Beberapa penggunaan anggaran negara yang ditujukan untuk membantu keluarga miskin agar bisa memperoleh pendidikan yang layak, disalurkan begitu saja tanpa evaluasi efektivitasnya.  Sebagai contoh, banyak fakta di lapangan bahwa keluarga mampu pun mendapatkan bantuan dana pendidikan dari pemerintah, sehingga dana seperti ini tidak tepat sasaran.

Belum lagi gelontoran dana pemerintah untuk proyek sekolah RSBI yang belum jelas efektivitas proyek tersebut sampai dengan saat ini.  Kinerja sekolah RSBI dibandingkan dengan sekolah non RSBI baru dapat dibedakan dari mahalnya biaya penyelenggaraan pendidikannya dan tentu kucuran dana dari pemerintah untuk sekolah RSBI.  Selebihnya keunggulannya masih belum bisa dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat.  Bahkan sekolah RSBI semakin menjadi jurang pemisah antara keluarga miskin dan keluarga mampu, untuk mendapatkan pelayanan pendidikan yang setara. Kalau miskin, jangan menyekolahkan putra putrinya di RSBI, karena biayanya pasti tidak terjangkau oleh keluarga miskin.  Naudzubillah min dzalik.

Kinerja Pendidikan Terpaku pada Aspek Formal, Intelektual dan Fisik

Beberapa tahun belakangan ini pimpinan sekolah dibuat begitu tertekan akibat adanya Ujian Akhir Nasional (UAN) yang merupakan penentu kelulusan siswa – siswinya klas 6 SD, klas 3 SMP dan klas 3 SMA.  Reputasi sekolah dan kepala sekolah oleh masyarakat dan pemerintah diukur dari aspek formal berupa prosentase kelulusan siswa siswi mereka di UAN.  Alokasi tenaga, pikiran dan biaya sebagian besar tercurah untuk keberhasilan UAN ini.  Apalagi instansi pemerintah (Bupati / Walikota dan Dinas Pendidikan) seringkali membanggakan prosentase kelulusan UAN yang tinggi sebagai prestasi pendidikan diwilayah mereka.  Hal ini menjadi semacam tekanan bagi kepala sekolah untuk berusaha mencapai prosentase kelulusan UAN sebaik baiknya bahkan dengan cara apapun (terbukti masih saja ada kecurangan terstruktur yang dilakukan sekolah, seperti kasus yang menimpa putra nyonya Siami di salah satu SD di Surabaya, Jawa Timur).

Bangunan gedung, perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan kelengkapan fisik lainnya, seringkali menjadi topik untuk mengukur kualitas pendidikan di suatu sekolah.  Hal – hal yang bersifat fisik seperti ini selalu menghiasi leaflet dan brosur sekolah pada saat penerimaan siswa baru, sebagai bukti kualitas pendidikan di sekolah yang bersangkutan.

Pendidikan Budi Pekerti Luhur Terabaikan

Menurut Benjamin S. Bloom (tahun 1956) tujuan pendidikan dibagi menjadi tiga domain, yaitu:

  1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
  2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
  3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Tujuan di ranah afektif antara lain menjadikan anak anak didik yang memiliki  budi pekerti luhur.  Sayang sekali karena kesibukan dan fokus ke ranah kognitif dan psikomotorik, ranah afektif, khussunya mengenai pendidikan budi pekerti luhur  kurang mendapat perhatian dari sekolah dan masyarakat. Banyak guru dan orang tua yang resah kalau anak – anaknya tidak mendapat ranking kelas atau tidak lulus Unas, sementara jika menemukan anak – anak melanggar norma budi pekerti luhur, seolah menjadi sesuatu yang mudah dimaafkan dan dipahami.

Cermin perilaku masyarakat di masa depan sesungguhnya tercermin pada bagaimana dunia pendidikan saat ini menyiapkan budi pekerti anak anak  didiknya.  Mengingat hal ini seharusnya semua Guru harus menempatkan diri sebagai Guru budi pekerti luhur.  Setiap interaksi dengan siswa siswinya selalu menanamkan prinsip bahwa hidup manusia yang mulia itu harus berdiri di atas budi pekerti luhur (akhlaqul karimah)

Mendidik dengan Hati

Guru adalah orang tua bagi siswa siswinya, yang memiliki peran sebagai teladan, teman akrab dan pengingat bagi siswa siswinya.  Materi pelajaran bidang studinya adalah alat semata untuk mengantarkan siswa siswinya menuju ke gerbang kedewasaan dan kemandirian dalam segala aspek antara lain: fisik, sosial, ekonomi dan spiritual.  Dengan fungsi yang demikian penting dalam lintasan kehidupan siswa siswinya, sudah sewajarnyalah bahwa profesi Guru adalah sebuah panggilan hati, bukan sekedar profesi dengan motif sosial ekonomi belaka.

Perhatian yang lebih besar dari Pemerintah terhadap penghargaan lahir batin dan kesejahteraan Guru adalah sebuah keharusan, demi suatu upaya mulai untuk membentuk generasi penerus yang berbudi pekerti luhur, trampil dan memiliki bekal ilmu pengetahuan yang mumpuni.

Pendidikan adalah Tanggung Jawab Semua Pihak

Mengaca kondisi pendidikan di Indonesia yang sudah berlalu hingga saat bangsa Indonesia memasuki tahun 2012, harus ada sebuah gerakan nasional untuk menyelamatkan pendidikan nasional Indonesia, menuju pendidikan nasional Indonesia yang lebih baik, pendidikan yang memiliki polayang kuat untuk membentuk karakter bangsa Indonesia di masa depan menjadi bangsa yang unggul dan bermartabat, berdiri sejajar dengan bangsa bangsa lain di dunia.

Pemerintah, masyarakat dan keluarga harus bahu membahu membenahi pendidikan bagi anak – anak bangsa ini.  Pemerintah memperbaiki kebijakan di sektor pendidikan menuju pendidikan dengan roh pembentukan generasi masa depan yang berkarakter mulia, masyarakat memiliki sistem kontrol efektif untuk memberikan arah yang benar bagi siswa dan siswi serta orang tua yang peduli tanpa henti terhadap perkembangan pendidikan putra  putrinya.

Tahun 2012 adalah sebuah tekad untuk membebaskan pendidikan nasional Indonesia dari unsur sekedar proyek nasional, prestasi simbolik, gegap gempita seremonial dan hal – hal yang dipenuhi kemunafikan dan angka – angka kosong.

Tahun 2012 seharusnya menjadi tahun kesadaran bahwa pendidikan untuk anak bangsa ini adalah kerja besar, kerja serius dan kerja mulia yang kelak akan menentukan martabat sebuah generasi Indonesia di masa datang.  Semoga Allah ta’ala melindungi, membimbing dan memberkati anak – anak Indonesia.  Aamiin (DP)

Explore posts in the same categories: Umum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: