Terkapar

Ditulis 5 Januari , 2012 oleh dodikpriyambada
Kategori: Puisi dan Cerpen

Lemah lunglai

Serasa remuk sekujur tubuh

Tulang belulang pun sepertinya hancur

Beban menggelantung di kepala

Kulit kepala menebal dan mengeras

Semua terasa memuakkan

Semua terasa pahit

 

Oh Tuhan

Ya Allah ya Robbi

 

Sungguh hamba ini

Hanya seonggok manusia rapuh

Manusia tak berdaya

Tanpa daya dan kuasa

 

Malau rasanya ya Allah

Untuk meneruskan keangkuhan

Kecongkakan dan kepongahan

Seolah sudah menjadi segala galanya

Memiliki yang dipinta

Nyatanya

Seonggok manusia tanpa daya

Ya Allah

Tak ada daya

Tak ada kuasa

Tak ada kekuatan

Selain dari Mu

Mohon ampunMu ya Allah …

Bimbing dan sayangi hambaMu

Aamiin …

 

Surabaya, awal Januari 2012

Belajar dari Mobil Kiat Esemka Solo

Ditulis 5 Januari , 2012 oleh dodikpriyambada
Kategori: Kisah Inspiratif, Metode Pembelajaran, Umum

Sebuah tulisan yang menarik di sebuah Surat Kabar, Rabu, tanggal 5 Januari 2012, disertai foto yang menarik, sebuah mobil plat merah, kendaraan dinas Walikota Surakarta, diambil gambarnya saat untuk pertama kalinya akan digunakan oleh pak Walikota.  Yang paling menarik bukan hanya itu, tetapi disebutkan disitu bahwa mobil tersebut dibuat oleh siswa siswa SMK.  Luar biasa.  Sebuah karya luar biasa dan menjadi kebanggaan pendidikan di Indonesia.

Peran guru, pimpinan sekolah dan mitra dunia usaha dan industri (DUDI) serta tentu orang tua siswa, sangat menentukan munculnya siswa – siswa yang luar biasa tersebut.  Ini adalah bentuk dari tanggung jawab pendidikan oleh semua pihak.  Pendidikan yang mampu memberikan bekal bagi para siswa untuk menapak jalan kedewasaan mereka.

Out put semacam itu adalah wujud terintegrasinya ketiga ranah tujuan pendidikan yaitu: kognitif, psiko motorik dan afektif.  Jelas siswa – siswa yang menekuni kegiatan pembuatan mobil tersebut terasah kemampuan akademis dan intelektualnya sehingga mampu menyerap ilmu bagaimana membuat dan merakit mobil.  Di aspek psiko motorik, ketrampilan para siswa untuk menggerakkan tangan trampilnya untuk mengoperasikan alat untuk membuat dan merangkai mobil adalah sebuah kecakapan psiko motorik yang paripurna.  Demikan halnya dengan ranah afektif atau sikap moral / perilaku, tentu hanya anak – anak yang disiplin, ulet, tekun dan kreatif yang mau dan mampu mengikuti aktivitas pembuatan dan perakitan m0bil.

Momen tersebut hendaknya bisa menjadi pemicu kesadaran peserta didik, tenaga pendidik,lembaga pendidikan, pemerintah dan masyarakat untuk melakukan yang jauh lebih baik untuk pendidikan nasional kita.  Mobil Kiat Esemka adalah menjadi inspirasi bagi masyarakat bahwa SMK adalah sebuah lembaga pendidikan menengah yang bisa menjadi alternatif bagi  keluarga yang tidak mampu membiayai putra putrinya ke perguruan tingi untuk mengantar mereka menapak jalan kedewasaannya.

Selamat untuk para siswa yang luar biasa, yang berhasil membuat dan merakit mobil Kiat Esemka.  Dan tentu saja para guru, pembina, pimpinan sekolah dan mitra DUDI yang telah membuat suatu karya besar tersebut terlahir.  Tak ketinggalan pak Walikota Surakarta, Pak Jokowi, yang membuat karya ini semakin dikenal dan diperhatikan masyarakat.  Alhamdulillah (DP)

Guru Ibarat Matahari

Ditulis 2 Januari , 2012 oleh dodikpriyambada
Kategori: Guru

Matahari selalu hadir setiap hari, memberikan arti bagi alam semesta.  Seorang Guru pun bisa belajar dari matahari, agar menjadi sang pendidik sejati, pendidik yang selalu melakoni perannya dengan sepenuh hati.

Guru bisa belajar dari sifat matahari antara lain:

–  Memberi

Matahari selalu memberikan sinarnya tanpa mendapat imbalan dari yang disinari,  begitu pun seorang Guru, seyogyanya selalu memiliki prinsip selalu memberikan ilmu dan nasehatnya kepada siswa – siswinya, tanpa kenal keluh dan tanpa kenal lelah.

–  Mencerahkan

Matahari membuat keadaan yang gelap menjadi terang benderang, matahari mencerahkan.  Pun seorang Guru harus memiliki prinsip mencerahkan siswa – siswinya.  Yang lupa diingatkan dan dan tidak tahu ditunjukkan.  Sungguh suatu kebahagiaan yang mendalam bagi seorang Guru manakala dia sudah memberikan pencerahan, membekali ilmu dan memberikan petunjuk kepada siswa siswinya.  Kebahagiaan itu bahkan  akan kekal menjadi bekalnya sampai di kehidupan akherat nantinya

–  Menyemangati

Matahari memanaskan bumi seisinya, sehingga bumi menjadi hidup dan memungkinkan makhluk hidup untuk melangsungkan kehidupannya.  Guru harus bisa menyemangati siswa siswinya untuk terus belajar belajar dan belajar untuk menjadi insan yang dewasa mandiri dan berbudi pekerti mulia.  Jangan pernah sekalipun siswa siswi jatuh dalam keputus asaan, sang Guru harus hadir menjadi penyemangatnya (DP)

(disarikan dari sambutan pak Nurcholis Huda, di sebuah pertemuan di kantor PW Muhammadiyah Jatim, Desember 2011)

Refleksi Pendidikan di AwalTahun Baru 2012

Ditulis 2 Januari , 2012 oleh dodikpriyambada
Kategori: Umum

Dana Bantuan Pemerintah untuk Pendidikan Tidak Efektif

Pendidikan di negara tercinta Indonesia sampai dengan saat ini masih menorehkan keprihatinan yang mendalam.  Peningkatan Anggaran Negara mendekati 30% dari APBN untuk sektor pendidikan ternyata belum dapat dimanfaatkan secara efektif untuk memperbaikai sistem pendidikan nasional di Indonesia.

Beberapa penggunaan anggaran negara yang ditujukan untuk membantu keluarga miskin agar bisa memperoleh pendidikan yang layak, disalurkan begitu saja tanpa evaluasi efektivitasnya.  Sebagai contoh, banyak fakta di lapangan bahwa keluarga mampu pun mendapatkan bantuan dana pendidikan dari pemerintah, sehingga dana seperti ini tidak tepat sasaran.

Belum lagi gelontoran dana pemerintah untuk proyek sekolah RSBI yang belum jelas efektivitas proyek tersebut sampai dengan saat ini.  Kinerja sekolah RSBI dibandingkan dengan sekolah non RSBI baru dapat dibedakan dari mahalnya biaya penyelenggaraan pendidikannya dan tentu kucuran dana dari pemerintah untuk sekolah RSBI.  Selebihnya keunggulannya masih belum bisa dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat.  Bahkan sekolah RSBI semakin menjadi jurang pemisah antara keluarga miskin dan keluarga mampu, untuk mendapatkan pelayanan pendidikan yang setara. Kalau miskin, jangan menyekolahkan putra putrinya di RSBI, karena biayanya pasti tidak terjangkau oleh keluarga miskin.  Naudzubillah min dzalik.

Kinerja Pendidikan Terpaku pada Aspek Formal, Intelektual dan Fisik

Beberapa tahun belakangan ini pimpinan sekolah dibuat begitu tertekan akibat adanya Ujian Akhir Nasional (UAN) yang merupakan penentu kelulusan siswa – siswinya klas 6 SD, klas 3 SMP dan klas 3 SMA.  Reputasi sekolah dan kepala sekolah oleh masyarakat dan pemerintah diukur dari aspek formal berupa prosentase kelulusan siswa siswi mereka di UAN.  Alokasi tenaga, pikiran dan biaya sebagian besar tercurah untuk keberhasilan UAN ini.  Apalagi instansi pemerintah (Bupati / Walikota dan Dinas Pendidikan) seringkali membanggakan prosentase kelulusan UAN yang tinggi sebagai prestasi pendidikan diwilayah mereka.  Hal ini menjadi semacam tekanan bagi kepala sekolah untuk berusaha mencapai prosentase kelulusan UAN sebaik baiknya bahkan dengan cara apapun (terbukti masih saja ada kecurangan terstruktur yang dilakukan sekolah, seperti kasus yang menimpa putra nyonya Siami di salah satu SD di Surabaya, Jawa Timur).

Bangunan gedung, perangkat Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan kelengkapan fisik lainnya, seringkali menjadi topik untuk mengukur kualitas pendidikan di suatu sekolah.  Hal – hal yang bersifat fisik seperti ini selalu menghiasi leaflet dan brosur sekolah pada saat penerimaan siswa baru, sebagai bukti kualitas pendidikan di sekolah yang bersangkutan.

Pendidikan Budi Pekerti Luhur Terabaikan

Menurut Benjamin S. Bloom (tahun 1956) tujuan pendidikan dibagi menjadi tiga domain, yaitu:

  1. Cognitive Domain (Ranah Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir.
  2. Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri.
  3. Psychomotor Domain (Ranah Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin.

Tujuan di ranah afektif antara lain menjadikan anak anak didik yang memiliki  budi pekerti luhur.  Sayang sekali karena kesibukan dan fokus ke ranah kognitif dan psikomotorik, ranah afektif, khussunya mengenai pendidikan budi pekerti luhur  kurang mendapat perhatian dari sekolah dan masyarakat. Banyak guru dan orang tua yang resah kalau anak – anaknya tidak mendapat ranking kelas atau tidak lulus Unas, sementara jika menemukan anak – anak melanggar norma budi pekerti luhur, seolah menjadi sesuatu yang mudah dimaafkan dan dipahami.

Cermin perilaku masyarakat di masa depan sesungguhnya tercermin pada bagaimana dunia pendidikan saat ini menyiapkan budi pekerti anak anak  didiknya.  Mengingat hal ini seharusnya semua Guru harus menempatkan diri sebagai Guru budi pekerti luhur.  Setiap interaksi dengan siswa siswinya selalu menanamkan prinsip bahwa hidup manusia yang mulia itu harus berdiri di atas budi pekerti luhur (akhlaqul karimah)

Mendidik dengan Hati

Guru adalah orang tua bagi siswa siswinya, yang memiliki peran sebagai teladan, teman akrab dan pengingat bagi siswa siswinya.  Materi pelajaran bidang studinya adalah alat semata untuk mengantarkan siswa siswinya menuju ke gerbang kedewasaan dan kemandirian dalam segala aspek antara lain: fisik, sosial, ekonomi dan spiritual.  Dengan fungsi yang demikian penting dalam lintasan kehidupan siswa siswinya, sudah sewajarnyalah bahwa profesi Guru adalah sebuah panggilan hati, bukan sekedar profesi dengan motif sosial ekonomi belaka.

Perhatian yang lebih besar dari Pemerintah terhadap penghargaan lahir batin dan kesejahteraan Guru adalah sebuah keharusan, demi suatu upaya mulai untuk membentuk generasi penerus yang berbudi pekerti luhur, trampil dan memiliki bekal ilmu pengetahuan yang mumpuni.

Pendidikan adalah Tanggung Jawab Semua Pihak

Mengaca kondisi pendidikan di Indonesia yang sudah berlalu hingga saat bangsa Indonesia memasuki tahun 2012, harus ada sebuah gerakan nasional untuk menyelamatkan pendidikan nasional Indonesia, menuju pendidikan nasional Indonesia yang lebih baik, pendidikan yang memiliki polayang kuat untuk membentuk karakter bangsa Indonesia di masa depan menjadi bangsa yang unggul dan bermartabat, berdiri sejajar dengan bangsa bangsa lain di dunia.

Pemerintah, masyarakat dan keluarga harus bahu membahu membenahi pendidikan bagi anak – anak bangsa ini.  Pemerintah memperbaiki kebijakan di sektor pendidikan menuju pendidikan dengan roh pembentukan generasi masa depan yang berkarakter mulia, masyarakat memiliki sistem kontrol efektif untuk memberikan arah yang benar bagi siswa dan siswi serta orang tua yang peduli tanpa henti terhadap perkembangan pendidikan putra  putrinya.

Tahun 2012 adalah sebuah tekad untuk membebaskan pendidikan nasional Indonesia dari unsur sekedar proyek nasional, prestasi simbolik, gegap gempita seremonial dan hal – hal yang dipenuhi kemunafikan dan angka – angka kosong.

Tahun 2012 seharusnya menjadi tahun kesadaran bahwa pendidikan untuk anak bangsa ini adalah kerja besar, kerja serius dan kerja mulia yang kelak akan menentukan martabat sebuah generasi Indonesia di masa datang.  Semoga Allah ta’ala melindungi, membimbing dan memberkati anak – anak Indonesia.  Aamiin (DP)

Ujian Nasional SMA Tahun 2010 – Masih Menyisakan Kepahitan

Ditulis 4 April , 2010 oleh dodikpriyambada
Kategori: Ujian Nasional

Ujian Nasional SMA tahun 2010 yang kontroversial, karena munculnya keputusan Mahkamah Agung yang menetapkan bahwa penyelenggaraan Unas tahun 2009 adalah sebuah kekeliruan.

Kasasi pemerintah soal pelaksanaan UN ditolak oleh MA pada 14 September 2009 lalu. Dengan demikian MA mengabulkan gugatan subsider para penggugat yakni 58 anggota masyarakat yang terdiri dari siswa, wali murid, guru dan pemerhati pendidikan mengabulkan gugatan Tim Advokasi Korban UN (Tekun) dan Education Forum agar ujian nasional (UN) ditiadakan.

Gugatan itu menyatakan bahwa bahwa para tergugat yakni presiden, wapres, mendiknas dan negara Republik Indonesia untuk meningkatkan kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah dan akses informasi yang lengkap di seluruh daerah.

Selain itu disebutkan juga bahwa para tergugat harus mengambil langkah-langkah konkrit untuk mengatasi gangguan psikologi dan mental peserta didik dalam usia anak akibat penyelenggaraan UN.

Dua poin terakhir gugatan adalah memerintahkan kepada para tergugat untuk meninjau kembali sistem pendidikan nasional dan menghukum para tergugat untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 374 ribu.

Putusan tersebut menegaskan bahwa UN memang banyak masalah.  Putusan MA pada intinya melarang pelaksanaan UN oleh pemerintah dan merupakan bentuk penegasan legal bahwa UN kita banyak masalah dan karenanya harus dilakukan evaluasi total terhadap UN.

Penerapan Ujian Nasional dipukul rata tanpa mempertimbangkan kondisi dari infrastruktur dasar pendidikan.  Sesuai dengan pertimbangan MA, UN diperlukan apabila seluruh penyelenggaraan pendidikan telah dilakukan secara merata, berkualitas dan terjangkau. UN bisa dilakukan apabila prasyarat dasar seperti sarana prasarana pendidikan memadai, distribusi dan kualitas guru terpenuhi, dan  kurikulum pendidikan akuntabel.

Seharusnya Mendiknas mencermati keputusan Mahkamah Agung tersebut sebagai momentum untuk menghentikan penyelenggaraan Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan siswa.

Lebih – lebih lagi fakta tentang pelanggaran dan penyimpangan pelaksanaan Ujian Nasional tahun 2009 sudah banyak diungkap secara terbuka, bahkan kasus penyebaran kunci jawaban secara terorganisir yang melibatkan guru dan siswa terjadi di banyak sekolah, termasuk di wilayah propinsi Jatim.

Ujian Nasional SMA tahun 2010

Harapan untuk sebuah pelaksanaan Ujian Nasional 2010 yang jujur dan obyektif pun ternyata masih menyisakan kenyataan pahit, karena ternyata di beberapa sekolah tetap nekad melakukan kecurangan dengan membagikan jawaban kepada para peserta ujian nasional, sehingga Pengawas Independen mengeluarkan pernyataan bahwa di beberapa sekolah hasil ujian nasional dinyatakan tidak sah dan melanggar peraturan berupa memberikan jawaban kepada siswa peserta Ujian Nasional 2010

Sebuah fakta juga terjadi di sebuah kabupaten di Jawa Timur, ada kesepakatan antar Kepala Sekolah yang berisi instruksi kepada para Pengawas dari sekolah masing – masing agar bertindak longgar dan jangan melakukan teguran kepada siswa yang membawa HP, menyontek, diskusi dan sejenisnya.  Akibatnya terjadilah sebuah kondisi bahwa Guru yang bertugas sebagai Pengawas Ujian Nasional diperlakukan tak lebih sebagai sebuah pajangan atau robot,  yang oleh peserta Ujian Nasional tidak dihiraukan kehadirannya.  Mereka asyik menyontek, berdiskusi dan bahkan membuka Hand Phone mereka tanpa merasa berdosa dan malu dengan para Guru yang mengawasinya (guru pengawas dari sekolah lain atau sistem silang).  Ada beberapa pengawas mencoba melakukan tindakan penertiban, akibat laporan dari peserta ujian nasional di sebuah sekolah, malahan mendapat tindakan dibebas tugaskan tidak mengawasi Ujian Nasional hari berikutnya.  Ini bisa disebut persekongkolan yang memalukan di dunia pendidikan.  Astaghfirullah.

Masih saja teman – teman Kepala Sekolah dan Guru melanjutkan tradisi mendidik kecurangan kepada anak – anak didiknya yang hendak lulus.  Bila saja mereka ingat bahwa proses pendidikan itu akan membekas seumur hidup, mungkin mereka akan berfikir sejuta kali untuk membiarkan bahkan memfasilitasi anak didik mereka untuk berbuat curang.  Jangan menyesal kalau sebagian anak didik itulah kelak yang akan menggantikan para koruptor yang suatu saat beranjak tua dan pikun atau meninggal.  Naudzubillah (DP)

ISO 9001 dan Sistem Manajemen Sekolah

Ditulis 4 April , 2010 oleh dodikpriyambada
Kategori: Manajemen Sekolah

Sistem Manajemen Sekolah adalah tata laksana yang mengatur proses pengintegrasian, pengkoordinasian dan pemanfaatan elemen-elemen suatu Sekolah untuk mencapai tujuan Sekolah secara efisien.

Menurut L. Gullick ada 7 ( tujuh) fungsi manajemen, yaitu :
1) planning (perencanaan)
2) organizing (pengorganisasian)
3) staffing (penentuan staf)
4) directing (pengarahan)
5) coordinating (pengkoordinasian)
6) reporting (pelaporan)
7) budgeting (penganggaran)

Untuk mencapai efektivitas suatu Sistem Manajemen Sekolah maka perlu disusun Sistem Manajemen yang mampu mengakomodasi nilai – nilai yang dipelihara dan dikembangkan di Sekolah yang bersangkutan.

Ada beberapa standart sistem menajemen organisasi atau perusahaan, yang sudah diakui secara nasional maupun international, antara lain :

–  Sistem Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

–  Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 (versi tahun 2000 atau 2008)

–  Sistem Manajemen Mutu MBPE (Malcolm Baldridge Performance Excellence)

–  Sistem Manajemen dengan model Balance Score Card (BSC)

dan lain sebagainya.

Kebijakan Direktorat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas yang tercantum di dalam “Buku Panduan Manajemen Sekolah”, menyatakan bahwa bidang – bidang kegiatan pendidikan di sekolah, meliputi :

1. Manajemen Kurikulum

2.  Manajemen Kesiswaan

3.  Manajemen Personalia

4.  Manajemen Keuangan

5.  Manajemen Perawatan Sarana dan Prasarana Sekolah

ISO 9001 Sebagai Alternatif Pilihan Standart Sistem Manajemen Sekolah

ISO 9001 adalah sebuah Standart Internasional untuk Sistem Manajemen Mutu (Quality Management System ) yang diakui secara Internasional.  Dengan menerapkan standart ISO 9001 maka suatu sekolah diharapkan memiliki konsistensi di dalam mengelola sekolah sesuai dengan peraturan yang berlaku, visi dan misi sekolah serta program – program sekolah yang telah dicanangkan dan disebar luaskan kepada masyarakat.  Disamping itu diharapkan ada suatu proses penyempurnaan berkelanjutan (Continual Improvement) terhadap kinerja sekolah sehiongga kualitas dan out put sekolah sebagai sebuah institusi pendidikan selalu menjadi lebih baik dan sempurna dari waktu ke waktu.

Sertifikasi ISO 9001

Sekolah bisa memilih untuk menerapkan sekaligus melakukan sertifikasi Standart Manajemen Mutu ISO 9001, walaupun sertifikasi ISO 9001 bukanlah sebuah keharusan.  Sekolah yang memiliki sertifikasi ISO 9001 (saat ini ISO 9001 : 2008) tentu saja memiliki kelebihan bahwa penerapan ISO 9001 di sekolah secara periodik (saat awal sertifikasi dan setahun sekali surveillance visit) akan di audit oleh Badan Sertifikasi ISO 9001.  Kehadiran pihak ketiga tersebut (Badan Sertifikasi) akan mendorong sekolah untuk secara efektif menerapkan dan memelihara ISO 9001 sebagai standart manajemen yang telah dipilihnya.

ISO 9001 adalah Suatu Alat bukan Beban Tambahan

Banyak pengalaman penerapan ISO 9001 di sekolah lebih merupakan suatu beban administrasi tambahan, khususnya menjelang audit sertifikasi dan surveillance visit.  Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak sekolah yang menerapkan ISO 9001 tidak konsisten dan hanya membanggakan sertifikat ISO 9001, padahal penerapan tidak efektif dan bahkan hanya merupakan beban waktu, tenaga dan biaya.

Seyogyanya hal ini harus diperbaiki karena ISO 9001 sesungguhnya sangat tepat dipergunakan sebagai standart manajemen yang diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan sekolah dan senantiasa dilakukan penyempurnaan kinerja sekolah secara terus menerus.  Hal ini mutlak harus diawali dengan Komitmen kepala Sekolah dan Pimpinan Sekolah serta dukungan dan peran serta Dewan Guru.

Kolaborasi Wali Kelas, Guru Wali dan BK

Ditulis 2 April , 2009 oleh dodikpriyambada
Kategori: Manajemen Sekolah

Dalam rangka meningkatkan efektivitas Manejemen Sekolah, khususnya dalam mendampingi anak didik di Sekolah, perlu diciptakan sebuah sistem yang membuat suasana pendampingan di sekolah bisa menghadirkan suasana seperti sebuah keluarga di rumah.  Sebuah hubungan yang dekat bahkan bersifat pribadi yang membuat anak didik merasa nyaman karena memiliki “orang tua” di sekolah.

Sebenarnya peran “orang tua” di sekolah secara konsep adalah menjadi tugas semua Guru, khususnya seorang Wali Kelas, yang mengasuh beberapa anak didik yang memiliki jenjang (kelas) yang sama di sebuah komunitas kelas.  Tugas Wali Kelas sedemikian banyak, khususnya yang bersifat administratif atau tulis menulis, seperti :  mendata ketidak hadiran siswa, mengumpulkan nilai anak didik dari guru mata pelajaran, mengisi raport, membagikan raport, dan sejenisnya.  Hal ini membuat komunikasi Wali Kelas dengan anak didik dan orang tuanya tidak begitu efektif dan lebih banyak terjadi secara formal dan kaku.

Ada juga instrumen Bimbingan Konseling yang diharapkan menjadi tempat pembimbingan, pengarahan dan berkeleuh kesah bagi anak didik.  Karena jumlah siswa yang ditangani sangat besar, maka peran BK lebih bersifat kasus demi kasus atau untuk beberapa siswa yang secara sukarela datang atau dipanggil karena terkait beberapa problem yang dialaminya.  Pendekatan kepada seluruh siswa bisa juga dilakukan oleh Tim BK, tetapi biasanya bersifat masal dan umum.

Untuk menyediakan pengganti orang tua selama di sekolah yang dekat dengan anak didik, setiap saat bisa berkomunikasi dengan cara kekeluargaan, tempat berkeluh kesah (curhat) dan pendamping untuk menentukan pilihan – pilihan terkait program pembelajaran di sekolah, maka diadakannya Guru Wali bagi anak didik diharapkan bisa menjawab problematika tersebut.  Setiap siswa baru akan mendapat seorang Guru Wali dan akan tetap mendampingi sampai siswa yang bersangkutan lulus.  Satu orang Guru bisa menangani sekitar 10 sampai dengan 15 orang siswa sebagai anak – anak perwaliannya.  Semua Guru (Guru Tetap, Guru  DPK, Guru Bantu dan GTT) sebaiknya mendapat tugas sebagai Guru wali, sehingga tak ada lagi Guru yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri, tanpa interkasi efektif dengan anak – anak didiknya, baik saat di kelas maupun diluar kelas.

Secara berkala diadakan pertemuan antara Guru Wali dengan anak – anak perwaliannya.  Komunikasi rutin juga bisa dilakukan melalui tatap muka, konsultasi, telpon, sms , email atau lewat cara lain yang sesuai.

Tentu saja diperlukan kerjasama dan saling memberi informasi antara Wali Kelas, Guru Wali dan Tim Bimbingan dan Konseling, sehingga perkembangan anak didik secara integral (terpadu) dapat dimonitor untuk selanjutnya dilakukan perbaikan dan peningkatan yang diperlukan. (DP)